Kabupaten Ogan Ulu

Gambar

Penulis hanya ingin memberi saran saja kepada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu atau orang-orang yang perduli dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) di mana saja berada di seluruh belahan bumi ini, karena tidak menutup kemungkinan tulisan saya ini juga di baca oleh orang Ogan Ulu/Jeme Ugan yang ada di Amerika, Jepang, Eropa, Arab, Cina,dll. 

Dalam sejarah terbentuknya Kabupaten Ogan Komering Ulu dikatakan bahwa nama Kabupaten OKU berasal dari 2 (dua) sungai besar yaitu: sungai ogan dan sungai komering, 

Sedangkan berdasarkan peraturan perundang-undangan, Kabupaten Ogan Komering Ulu terbentuk dengan keluarnya Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembubaran Negara Bagian Sumatera Selatan dan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Sumatera Selatan menjadi Propinsi didalam Negara Republik Indonesia.

Selanjutnya melalui Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor GB/100/1950 tanggal 20 Maret 1950, ditetapkan batas-batas wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan ibu kota kabupaten di Baturaja. Sejalan dengan Undang-undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 yang diperkuat dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Kotapraja di Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821), Kabupaten Ogan Komering Ulu menjadi daerah otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Sesuai dengan semangat Otonomi Daerah, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4347), pada tahun 2003 Kabupaten OKU resmi dimekarkan menjadi 3 (tiga) Kabupaten, yakni (1) Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU TIMUR) dengan Ibukota Martapura; (2) Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU SELATAN) dengan Ibukota Muaradua dan (3) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dengan Ibukota Baturaja. sumber :http://www.okukab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=44&Itemid=42

Dengan memekarkan 2 Daerah Otonomi Baru (DOB) yaitu: OKU Timur dan OKU Selatan ini, maka selayaknya menurut penulis nama Kabupaten OKU, tidak lagi memakai nama Ogan Komering Ulu, akan tetapi cukup dengan Ogan Ulu saja, jadi namanya berubah menjadi Kabupaten Ogan Ulu.

Demikian halnya nama Kabupaten OKU Timur, selayaknya menurut penulis cukup diberi nama Kabupaten Komering ulu sedangkan, Kabupaten OKU Selatan diberinama Kabupaten Muaradua saja. 

 

Tinggalkan komentar

Filed under profile

Bantal

GambarOh, betapa nikmatnya,.bahwa aku masih memiliki sebuah bantal yang bisa membantu serta menemaniku untuk menciptakan mimpi di malam hari! Setiap malam tiba, aku mengebas bantalku, menempatkannya dalam posisi yang enak buat menyanggah kepalaku untuk beristirahat, untuk berziarah menjelajahi segala kemungkinan di dunia mimpi.

Di siang hari, mungkin aku harus berhadapan dengan sejuta kekecewaan, sejuta kegagalan. Mungkin aku harus berhadapan dengan pengalaman yang membuatku seakan tak mampu berdiri dan bergerak maju. Mungkin aku harus berhadapan dengan orang yang memandangku dengan sorotan mata dingin.

Mungkin karena salah paham, saya harus menerima penilaian yang tidak adil menurut pertimbanganku. Mungkin sepanjang hari aku diselimuti oleh sejuta kesibukan yang aku sendiri tak tahu mengapa dan untuk apa aku begitu sibuk, hingga seluruh badanku penat menanti liang lahat. Mungkin aku ditinggal sendiri ketika sebuah beban berat datang menindih. Namun, .. Oh Tuhan!!! Sekurang-kurangnya aku masih memiliki sebuah bantal untuk dipeluk.

Bantalku…. Ia menyimpan semua rahasia mimpiku untuk dunia masa datang. Ia secara tabah dan setia mendampingiku saat kemelut bathin datang mencekam. Ia rela menampung semua butir air mataku yang pernah bergulir jatuh. Ia seakan tangan Veronika yang penuh kasih, mengeringkan air mata yang masih tersisa di pipiku. Ia begitu tenang tanpa kata, ia setia menerimaku apa adaku untuk secara tenang dan nyaman memberikan seluruh diri untuk beristirahat di malam hari.

Terima kasih bantalku!!! Kendati segala kemelut silih berganti datang di hari ini, namun kalau masih ada engkau menemani aku menciptakan mimpi untuk hari esok, maka aku percaya bahwa hari esok merupakan hari baru yang diwarnai oleh sejuta janji.

Tinggalkan komentar

Filed under profile

Base Ugan

Bahasa Ogan Ulu selanjutnya kita sebut Base Ugan adalah bahasa yang di pakai atau bahasa ibu di daerah Ogan Ulu atau Kabupaten Ogan Komering Ulu. Bahasa ini adalah rumpun Bahasa Melayu berakhiran e pepet. Penutur bahasa ini tersebar di 12 Kecamatan dalam Kabupaten OKU, dari 12 kecamatan ada 2 kecamatan yang bukan penutur Base Ugan yaitu Kecamatan Lengkiti. Kecamatan Lengkiti merupakakan penutur Bahasa Komering Dialek Daya ada 2 marga di kecamatan ini yaitu Marga Lengkayap dan Marga Kiti terdiri dari 12 kampung. Namun demikian bila masyarakat Lengkiti ini berbicara dengan masyarakat penutur Base Ugan maka mereka dapat juga menggunakan Base Ugan ini dalam arti lain penutur Bahasa Komering Daya ini bisa juga memakai Base Ugan. Selanjutnya ada 1 kecamatan lagi yang bukan penutur Base Ugan akan tetapi ada juga beberapa kampung merupakan penutur Base Ugan yaitu Kampung Negeri Sindang, Kampung Lubuk dalam Kecamatan Sosoh Buay Rayap(SBR). Bahasa ibu di Kecamatan SBR ini adalah Bahasa Campur yaitu campuran antara Bahasa Komering Daya dengan Base Ugan, masyarakat sering juga menyebutnya Bahasa Penyandingan merujuk pada Desa Penyadingan yang merupakan Ibukota dari Kecamatan SBR.

Dari sekitar 500.000 (limaratus ribu) jiwa Penduduk Kabupaten OKU diasumsikan sekitar 50% merupakan penutur Base Ugan, jadi ada sebanyak 250.000 jiwa penutur Base Ugan ini. Untuk Wilayah Kotabaturaja Base Ugan dipakai bersamaan dengan Bahasa Melayu Palembang atau sering di sebut juga Baso Pelembang Sari-ari. Terkadang juga penutur Base Ugan di Kotabaturaja mencampur Base Ugan dengan Bahasa Melayu Palembang. Dengan kata lain penutur Base Ugan di Kotabaturaja akan menggunakan Base Ugan saat di dalam rumah bersama anggota keluarga, akan tetapi bila penutur Base Ugan ini keluar rumah misal ke pasar,ke tempat kerja, pergi ke mall, ke bank, ke kantor-kantor atau ke sekolah maka penutur Base Ugan lebih sering memakai Baso Pelembang Sari-ari. Karena bercampurnya Base Ugan dengan Baso Pelembang Sari-ari ini di Kotabaturaja sehingga masyarakat sering kali menyebutnya Base Pelembang Buntung.

Di kecamatan-kecamatan penutur Base Ugan masyarakatnya sangat fanatik akan bahasa ini terutama pada Kecamatan Ulu Ogan, Pengandonan, Semidang Aji, Kecamatan Muara Jaya, Lubuk Batang serta Kecamatan Peninjawan. Walau demikian masyarakat penutur Base Ugan tidak pernah atau jarang menggunakan Base Ugan ini pada acara resmi. Pada pidato bupati, camat, lurah atau kades serta khotbah jumat, akad nikah tidak pernah atau jarang kita jumpai penutur Base Ugan menggunakan Base Ugan, bahasa yang dipakai adalah Bahasa Indonesia. Base Ugan hanya dipakai sebagi penegas kata atau kalimat saja. Di sekolah hanya mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 SD saja di ajarkan mata pelajaran Base Ugan itupun menurut pengamat penulis belumlah maksimal cara penyampaiannya. Pada media masa tulis amat jarang kita jumpai tulisam Base Ugan. Untuk stsiun radio Alhamdulillah  ada 1 Stasiun radio yang melestarikan Base Ugan ini yaitu Radio Lean Puri FM yang mengudara pada frekuensi 103,1 FM. Sedangkan stasiun televisi belum ada yang menggunakan Base Ugan sebagai bahasa komunikasinya. Bahasa tulis sebenarnya dalam Base Ugan memiliki huruf atau aksara sendiri yaitu huruf ka ga nga masyarakat Ogan menyebutnya Surat Ulu. Aksara ini mirif akasara Rencong Aceh atau Akasara Lampung. Akan tetapi amat sangat di sayangkan Surat Ulu ini sudah jarang atau tidak bisa kita jumpai lagi pemakainya.

Selain di wilayahnya sendiri penutur Base Ugan bisa kita jumpai pula di Peropinsi tetangga yaitu di Propinsi Lampung. Base Ugan dapat kita Jumpai penuturnya di kampung-kampung sepanjang Jalan Lintas Tengah Sumatera dari Kecamatan Bukit Kemuning sampai Kotabumi Kabupaten Lampung Utara, Base Ugan bisa kita jumpai penuturnya pada kampung : Bukit kemuning, Tanjung Waras, Sukamarga/Talang Pris, Pulau Panggung/Napalbelah, Ogan Lima, Negeri Besar/Bunglai, Jembatan/Talang Jerambah dan Kampung-Kampung Lainnya dalam Kabupaten Lampung Utara. Di wilayah Kabupaten Way Kanan Base Ugan bisa kita jumpai Penuturnya di Kecamatan Kasui dan Kecamatan Banjit serta di Kampung Kayu Batu Kecamatan Gunung Labuahan Kabupaten Way Kanan, Di Kota Metro Lampung dapat kita jumpai juga penutur Base Ugan pada beberapa kampung. Di Kabupaten Tanggamus penutur Base Ugan bisa kita jumpai di beberapa kampung dalam Kecamatan Talang Padang, Gisting, Pulau-Panggung dan Kota Agung Tanggamus. Untuk wilayah Lampung Selatan penutur Base Ugan bisa kita jumpai di Kecamatan Palas. Sedangkan di Kabupaten Mesuji Lampung Bahasa Ogan yang dipaki adalah Bahasa Ogan Dialek Pegagan.

Tinggalkan komentar

Filed under profile

Peta Zonasi Bahaya Lahar Dingin


i

1 Votes

Quantcast

// <![CDATA[//
PDRTJS_settings_562512_post_5592={“id”:562512,”unique_id”:”wp-post-5592″,”title”:”Peta Zonasi Bahaya Lahar Dingin”,”permalink”:”http:\/\/rovicky.wordpress.com\/2010\/11\/08\/peta-zonasi-bahaya-lahar-dingin\/”,”item_id”:”_post_5592″}
//
Selain ancaman lava, lahar, dan awanpanas kini hujan deras menyebabkan Gunung Merapi juga menyebabkan adanya daerah rawan bahaya lahar dingin. Lahar dingin merupakan aliran sedimen pekat yang teridiri atas batu, kerikil, pasir serta abu vulkanik yang tercampur air.

Peta yang dikeluarkan oleh BNPB untuk daerah rawan banjir lahar dingin terlihat dibawah ini :

Peta Zonasi Rawan Banjir Lahar Dingin Merapi 7 Nov 2010

Zonasi ini didasarkan pada buffer zone 300 dan 500 meter sepanjang sungai yang hulunya di lereng Gunung Merapi.

Peta detil zonasi rawan banjir ukuran besar dapat diunduh disini :

Untuk melihat Peta Jalan, Peta Satelite, atau Peta Ketinggian.
View Larger Map

Proses terjadinya lahar dingin secara grafis dijelaskan dibawah ini

Sumber Departemen Pekerjaan Umum

Ketika meluncur dari puncak Merapi, material ini berupa material piroklastik yang menyebabkan terbentuknya awanpanas. ISinya terdiri atas batuan berukuran bongkah, kerakal, kerikil, pasir hingga debu panas. Setelah di daerah produksi ini terkena hujan maka di daerah transportasi di lerengnya akan memiliki energi sangat tinggi yang mampu merusak apa saja yang dilewatinya. Seterusnya ketika sampai dibawah maka akan terjadi proses sedimentasi dari pasir-pasir ini sebagai endapan material vulkanik yang sering kita lihat di tebing-tebing sungai ditengah  perkotaan Jogja.

Dongengan terkait :

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

MANFAAT DAUN PEGAGAN

Tumbuhan Pegagan atau sering di sebut pegago dalam bahasa Lampung dialek Abung. Merupakan tumbuhan menjalar di tanah, daunnya berbentu bulat kecil seperti koin 500 an. Ada juga yang lebih besar lagi diameterya.

Bagi masyarakat Lampung tumbuhan ini sering diambil daunnya untuk dilalap sebagai sayuran segar. Tapi rupaya tidak hanya dimakan daunya saja, pegagan ini bisa juga untuk obat luka bakar. cara menggunakanya cukup ambil daun pegagan seperlunya lalu di lumatkan atau di tumbuk, kemudian di borehkan atau di oleskan daun pegagan yang sudah di lumatkan ini pada luka bakar. InsyaAllah dapat meyembuhkan luka bakar anda.

Tinggalkan komentar

Filed under Kesehatan

Bahasa Ogan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Bahasa Ogan
Dituturkan di Indonesia
Daerah Sumatera Selatan (Indonesia)
Jumlah penutur 500.000
Rumpun bahasa Austronesia

Kode-kode bahasa
ISO 639-1 Tidak ada
ISO 639-2
ISO 639-3 ogn

Bahasa Ogan adalah bahasa yang dituturkan sebagian besar masyarakat yang terdapat di Kabupaten Ogan Ilir (Tanjungraja, Inderalaya, Pemulutan, Muara Kuang), Ogan Komering Ilir (Pampangan, Tulung Selapan), dan Ogan Komering Ulu (Baturaja).

Bahasa Ogan yang dituturkan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir atau tepian Sungai Ogan. Sungai Ogan berasal dari beberapa aliran kecil mata air dari Bukit Nanti bersatu menjadi satu aliran besar Sungai Ogan, yang pada akhirnya bermuara di sungai Musi Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Bahasa Ogan yang digunakan oleh masyarakat di tepian sungai Ogan dikenal salah satu suku dari rumpun Melayu yaitu suku Ogan. Batasan Suku Ogan dikenal adanya istilah, Ulu Ogan (daerah Kelumpang), Ogan Ulu (daerah kecamatan Pengandonan), Ogan Baturaja (Kota Baturaja), dan Ogan Ilir (daerah Lubuk Batang dan Muara Kuang).

Bagi orang yang telah mengenal bahasa Ogan, mereka akan mengatakan bahwa bahasa Ogan mirip bahasa orang Malaysia walau tidak sama persis. Contoh logatnya “Nak kemane?”, yang artinya “Anda hendak ke mana?”.

Semakin ke hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Ogan, maka logat bahasa Ogan Akan terdengar keras, makin ke hilir makin halus dan agak terdengar berlagu. Hal ini senada dengan filosofi “daerah hulu sungai Ogan, tepian sungai Ogan agak kecil arus airnya deras berbatu dan berbukit, sedangkan daerah hilir tepian sungai Ogan lebar dan arus air tenang tidak berbatu.”

Tinggalkan komentar

Filed under profile

SEJARAH KABUPATEN OKU

Nama Kabupaten Ogan Komering Ulu diambil dari nama dua sungai besar yang melintasi dan mengalir di sepanjang wilayah kabupaten OKU, yaitu sungai Ogan dan Sungai Komering. Berdasarkan sejarah, sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 9 Tahun 1997 tanggal 20 Januari 1997, Tahun 1878 ditetapkan sebagai tahun kelahiran nama Ogan Komering Ulu. Sedangkan berdasarkan peraturan perundang-undangan, Kabupaten Ogan Komering Ulu terbentuk dengan keluarnya Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembubaran Negara Bagian Sumatera Selatan dan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Sumatera Selatan menjadi Propinsi didalam Negara Republik Indonesia.

Selanjutnya melalui Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor GB/100/1950 tanggal 20 Maret 1950, ditetapkan batas-batas wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan ibu kota kabupaten di Baturaja. Sejalan dengan Undang-undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 yang diperkuat dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Kotapraja di Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821), Kabupaten Ogan Komering Ulu menjadi daerah otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Sesuai dengan semangat Otonomi Daerah, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4347), pada tahun 2003 Kabupaten OKU resmi dimekarkan menjadi 3 (tiga) Kabupaten, yakni (1) Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU TIMUR) dengan Ibukota Martapura; (2) Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU SELATAN) dengan Ibukota Muaradua dan (3) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dengan Ibukota Baturaja.

BUPATI KABUPATEN OKU TAHUN 1949 – SEKARANG

No
Nama
Masa Jabatan
1.
M. Said
1949 – 1950
2.
Nawawi
1950 – 1952
3.
Aziz
1952 – 1954
4.
Mustofa
1954 – 1956
5.
Saleh
1956 – 1958
6.
Harun
1958 – 1962
7.
Usman Raden Mangku
1962 – 1963
8.
Rusman Effendi Rustam
1963 – 1968
9.
M. Muhammad Muslimin
1968 – 1979
10.
HM. Saleh Hasan, SH.
1979 – 1989
11.
Drs. H. Mulkan Aziman
1989 – 1994
12.
Amiruddin Ibrahim
1994 – 1999
13.
H. Rosihan Arsyad
1999 – 2000
14.
Ir. Syahrial Oesman, MM.
2000 – 2002
15.
Eddy Yusuf, SH., MM.
2002 – 2008
16.
Drs. H. Yulius Nawawi
2008 – 2010
17. Drs. H. Yulius Nawawi
2010 – 2015

Komentari · Suka · Bagikan

2 Komentar

Filed under Profil